Thursday, June 23, 2016

Manuver Indosat dan dominannya Telkom.

Beberapa hari yang lalu tersiar kabar bagaimana Indosat melakukan manuver marketing dengan langsung frontal menyerang Telkomsel melalui kampanye bahwa Telkomsel mempunyai tarif yang mahal. Dalam dunia marketing hal saling meledek dan menyinggung sering terjadi dalam kampanye iklan. Kita bisa lihat bagaimana dua brand yang merupakan pimpinan pasar dan sekaligus pesaing saling memberikan sindiran melalui kampanye produk dalam iklan mereka semisal Samsung ke Apple atau Pepsi Cola dan Coca-cola. Dalam kasus Indosat versus Telkomsel ini ada keunikan tersendiri dimana Indosat benar-benar menyebut nama brand yaitu Telkomsel. 

Saya tidak akan menilai apakah yang dilakukan Indosat legal atau etis tetapi suatu hal yang pasti ada pemicu yang membuat Indosat sedemikian seperti sudah putus asa. Telkomsel adalah anak perusahaan Telkom sesuai dengan saham yang ia kuasai. Sedangkan Telkom adalah BUMN. Sedangkan Indosat dikuasai oleh orang asing. Dari dua hal ini saja sudah terlihat ada pemisahan yang mendasar layaknya kita bisa menilai bahwa milik negara adalah prioritas. Telkomsel sudah mempunyai jaringan di seluruh kecamatan di Indonesia. Pencapaian ini relatif mudah karena mempunyai pengalaman dari Telkom sebagai satu-satunya penyedia telekomunikasi di Indonesia dari sejak dahulu kala dan tentunya menjangkau seluruh Indonesia.

Siapa coba yang bisa menang (atau paling tidak menandingi dengan gap yang tidak jomplang) dari pengalaman, modal, relasi, dan infrastruktur yang bisa dibilang cukup mapan walaupun sebenarnya peluang tetap ada. Teknologi Telekomunikasi itu sangat mahal. Kalau operator seluler Indosat dan yang lain-lain mematok harga murah maka sudah pasti tenggelam. Harga mahal saja kapasitas langsung penuh dan membuat pelanggan berebutan.

Jadi bagaimana? Bagaimana menandingi keperkasaan Telkom/Telkomsel? Jujur kalau saya sebagai CEO Indosat dan yang lain-lain saya tidak bisa memikirkan hal yang revolusioner untuk mendobrak pimpinan pasar. Yang ada kita hanya bisa merengek ke konsumen yang ada seperti salah satu operator seluler yang terus memberikan penawaran pulsa dan koneksivitas lewat SMS-SMS nya.

Satu lagi dominannya Telkom ada di layanan fiber optic untuk data internet dan tv kabel. Lihat saja begitu mudahnya jaringan terbangun karena memang sudah ada tiang Telkom sebelumnya. Tidak peduli kapasitas yang penting itu tiang bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya. Bandingkan dengan pesain yang hanya bisa ngos-ngosan untuk mengusahakan tiang-tiang milik mereka sendiri. Padahal yang benar saja kalau semua operator fiber optic harus punya tiang. Bisa dibayangkan kan di sudut jalan kaya hutan besi?

Ya begitulah ya cerita soal perusahaan telekomunikasi di negara kita. Tidak diketahui apakah kondisinya di negara lain sama. Kalau sama ya ngapain tuh perusahaan asing mau investasi telekomunikasi di kita. Ya kita nantikan saja drama-drama lain selanjutnya.