Friday, May 27, 2016

Angkot Jorok di Kota Bandung

Saya adalah seorang pengguna angkot (angkutan kota) yang cukup sering karena memang angkot masih saja jadikan sarana transportasi utama. Belakangan dalam beberapa perjalanan saya menggunakan angkot tersebut saya menyadari bahwa mobil angkot yang saya gunakan dalam keadaan sangat kotor dan tidak terawat. Entah mengapa saya yang telah bertahun-tahun menggunakan angkot menjadi tersadar dengan keadaan angkot tersebut. Sayangnya saya sedang tidak membawa alat dokumentasi seperti kamera atau hp. Tapi saya dapat memberi penilaian bahwa angkot yang saya naiki tersebut dalam kondisi sangat kotor dan tidak terawat dan untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa tidak nyaman hingga hendak turun saja.

Saya tidak tahu apakah fenomena makin banyaknya angkot jorok dikarena penggunaan angkot yang mulai turun seiring dengan banyaknya pemotor sehingga turunnya motivasi (akibat pemasukan yang berkurang) pemilik dan apalagi supir untuk memperhatikan kondisi angkot mereka. Tapi walaupun begitu ya sebelum berangkat mencari penumpang paling tidak disapu atau dilap sedikit lah. Diwaktu dulu masih berjaya tidak menemukan sekalipun angkot jorok semacam itu. Walaupun sekarang banyak juga angkot dengan mobil baru tapi masih sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan mobil-mobil tua yang masih terus dipaksakan bekerja.

Yang pasti angkot masih dibuthkan tetapi lebih baik jumlahnya dikurangi. Siapa yang tidak siap dengan pelayanan yang baik maka lebih baik cari bisnis lain. Kenyamanan penumpang menjadi salah satu alasan utama mereka bertahan menggunakan angkot.

Tuesday, May 24, 2016

Perang pengaruh di Media Sosial dan Meredupnya Bisnis Media Cetak

Media-media cetak mulai berguguran. Nama-nama besar dalam bisnis media pun bila bertarung di media internet pun belum tentu menghasilkan. Semua itu imbas dari semakin terbiasanya orang menyerap informasi dari media sosial.

Penggalan informasi yang terdapat dalam sebuah judul berita dalam bentuk tautan di media sosial terutama twitter cukup menjadi sebuah informasi bagi sebagian orang. Artinya tidak ada tindak lanjut dari si pembaca untuk membaca informasi yang lengkap dalam halaman yang dimaksudkan tautan tersbut. Celakanya kadang judul memang dibuat untuk menimbulkan terlebih dahulu emosi pembaca sehingga ada ketidaksesuaian informasi pada judul dengan berita.

Selain itu orang lebih suka didongengkan oleh orang lain yang terklasifikasi menjadi penyebar informasi. Penyebar informasi ini biasa disebut "buzzer". Layaknya sebuah "buzzer" atau tanda peringatan yang seketika harus mendapat perhatian karena sesuatu hal yang dia lontarkan. Sebenarnya buzzer tidak menjadi spesifik karena pada dasarnya orang mampu menyampaikan informasi dan menyebarluaskan informasi dengan syarat memang dia mempunyai pengaruh ditandai dengan pembaca setia ataupun pengikut. Nah munculnya berbagai macam penyebar informasi inilah yang menjadi perang pengaruh di media sosial.

Bayangkan saja satu orang bisa mempengaruhi persepsi orang lain dalam hal ini pembaca atau pengikutnya mengenai suatu masalah. Sementara di tempat lain akan ada orang yang kebetulan bertentangan mengeluarkan opininya sendiri. Kondisi ini sangat ramai belakangan ini di media sosial apalagi berhubungan dengan politik.

Orang-orang berpengaruh ini tidak jarang mempunyai corong media yang dia bangun sendiri. Hal inilah yang mengakibatkan pertarungan bisnis media sangat ketat. Biasanya orang-orang berpengaruh ini beberapa berasal dari selebritis atau wartawan atau mantan wartawan. 

Tapi kabar baiknya sampai sejauh ini bahwa penyerapan informasi oleh pembaca masih tersaring dan terpilah sesuai dengan akal. Namun hendaknya harus tetap diwaspadai adanya penyebaran informasi yang tidak sesuai bisa berupa fitnah, pengaburan, opini sesat, "fallacy" dan distorsi informasi lainnya.