Thursday, May 12, 2016

Bagaimana Pengelolaan liga olah raga dan pengelolaan klab secara profesional di Indonesia sekarang ini? bagian 2

Post terakhir sudah membahas dari sisi klab atau tim. Nah bagaimana dari sisi penyelenggara kompetisi? Sebelumnya bagian 1 bisa dibaca di sini

Kalau klab saja minimal harus mempunyai 3-5 milyar rupiah maka pihak penyelenggara dalam hal ini EO harus menghimpun dana lebih dari 10 atau bahkan 15 milyar rupiah. Darimanakah dana sebesar itu mungkin terkumpul? 

Perkiraan dana terkumpul dari beberapa sumber utama. Dari hak siar televisi, dari sponsor utama dan dari sponsor/bantuan lain seperti dari induk organisasi. Nah di sini yang menarik. Berapa sih kemampuan televisi dalam memperoleh hak siar? Berapa sih sponsor utama harus memberi kontribusi dan berapa pula bantuan pemerintah melalui induk organisasi.

Hak siar mungkin bisa mencapai 2-3 milyar rupiah. Sponsor utama mungkin bisa mencapai 3-5 milyar rupiah. Bantuan pemerintah dan lain-lain mungkin bisa mencapai 1-2 milyar rupiah. Seperti kita lihat hitungan keseluruhan dana tersebut belum mencapai 10 milyar lebih. Tapi apakah iya benar demikian? atau bisa jadi lebih kecil. Menjadi sangat berat bagi pihak penyelenggara apabila mereka masih harus memberikan subsidi dan atau pembagian hak siar bagi masing-masing klab. Ingat bahwa klab pun masih riskan dengan penerimaan modal.

Sehingga berdasarkan gambaran di atas bahwa menyelenggarakan kompetisi bagi EO sepertinya sangat pas-pasan (tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan) mengingat biaya produksi dan penyelenggaraan sangat tinggi karena melibatkan banyak personel dan akomodasi perpindahan tuan rumah penyelenggara.