Wednesday, May 4, 2016

Bagaimana Pengelolaan liga olah raga dan pengelolaan klab secara profesional di Indonesia sekarang ini? bagian 1

Di Indonesia hampir dipastikan belum ada liga atau kompetisi olah raga dan klab yang dikelola secara profesional. Kalaupun ada hitungannya masih setengah profesional karena ada aspek-aspek yang diabaikan sebagai syarat liga dan klab profesional.

Untuk membahas judul postingan ini, kita ambil contoh aja cabang olah raga basket. Kompetisi atau Liga saat ini baru saja berubah operator pelaksananya. Tidak diketahui mengapa ada perpindahan operator pelaksanaannya selain karena mungkin kontrak juga sudah habis. Tapi seperti yang sudah-sudah sangat tergambarkan bahwa mengelola liga atau kompetisi itu berat terutama dari segi modal atau pembiayaan. Hanya EO (event organizer) sebagai operator yang bernyali besar mau mengadakan liga atau kompetisi. Faktanya kompetisi bola basket Indonesia yang utama ketika bernama NBL, operatornya dibujuk untuk mau mengadakan liga.

Ok lah kita lihat dari sisi pengelolaan klab atau tim basket. Ada minimal 15 orang dalam 1 tim dan sekitar 10-15 orang staf termasuk manajer dan pelatih. Dari jumlah personel tersebut sekitar 30-an orang maka biaya penggajian selama 1 musim atau sekitar 10 bulan total bisa mencapai 2 milyar rupiah lebih (secara sederhana pemain kelas atas bisa digaji minimal 10 juta rupiah per bulan). Biaya operasional seperti akomodasi bisa mencapai lebih dari 2 milyar rupiah. Maka klab atau tim harus mampu menyediakan sekitar minimal 5 milyar rupiah untuk mengarungi 1 musim liga atau kompetisi.

Pertanyaannya ialah dari mana mereka mendapatkan dana sebesar itu? Sering ada pemilik klab atau tim yang memang bisa menyisihkan keuntungan (bisa juga dalam bentuk grup) yang ia dapat sebagai pemasukan modal tim atau biasanya melibatkan perusahaan yang dia punya. Biasanya orang atau pemilik itu adalah yang sangat cinta pada permainan basket itu sendiri. Tambahan modal lain tentunya didapat dari sponsor.

Sponsor inipun tentunya dia punya hitungan sendiri. Apa iya dia akan memberikan dana besar kalau cakupan orang yang bisa melihat "brand" atau nama produk mereka (biasanya ditempatkan di kaos dan perlengkapan tim) itu luas. Penulis memprediksi bahwa akan sangat berat apabila pihak sponsor bisa memberikan dana lebih dari 1 milyar rupiah (ingat bahwa klab harus punya setidaknya 5 milyar rupiah).

Satu lagi pendanaan berasal dari subsidi atau pemberian modal dari penyelenggara liga sebagian bagian dari hak siar (biasanya). Untuk hal ini dan hal seperti bantuan dari pengurus organisasi atau induk oraganisasi cabang olah raga, penulis juga hanya meraba-raba. Kalaupun iya ada nilainya pun relatif kecil per klab atau tim mungkin maksimal 1 milyar rupiah.

Kenapa penulis semuanya menggunakan perkiraan pada postingan blog kali ini? Karena memang tidak ada transparansi dari seluruh elemen liga atau kompetisi. Hal inilah yang penulis sebutkan di atas sebagai salah satu mengapa bisa dikatan liga atau kompetisi basket di Indonesia masih belum profesional. Bandingkan dengan liga NBA dimana kontrak-kontrak sangat jelas.

Kembali lagi ke masalah sebelumnya mengenai dana klab basket. Sejauh ini sudah terkumpul dana sekitar mungkin 3 milyar rupiah. Mungkin nilai sebesar itulah yang didapatkan oleh tim atau klab kecil. Dengan hitungan seperti di atas maka bisa saja ada pemain yang digaji bahkan di bawah UMR per bulan. Apa iya sebagai pemain basket menjanjikan? Apa iya bisa menjadikan motivasi yang kuat untuk meraih prestasi? Ini baru cabang basket yang bisa meraih cukup banyak penonton. Bagaimana dengan cabang lainnya?




Tuesday, May 3, 2016

Opini: Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab Leicester Juara Liga Inggris

Berikut adalah opini penulis berdasarkan hasil analisa mengapa tahun ini Leicester City (LCFC) bisa menjadi juara liga Inggris:

1. Formasi tim Leicester pada tahun ini diyakini adalah yang paling seimbang dan sangat pas/cocok/sesuai. Ditambah lagi dengan racikan strategi dari Claudio Ranieri sebagai pelatih baru yang tentunya sesuai dengan tim yang ada menjadikan permainan mereka menjadi solid dan terbukti mampu mengarungi jadwal kompetisi sepak bola khususnya di liga Inggris.

2. Ada kejenuhan permainan dialami oleh tim-tim besar liga Inggris seperti Chelsea, Arsenal dan Manchester City serta masih lemahnya MU dan Liverpool dalam membangun tim. Sangat penat dan sangat tidak bergairah melihat permainan tim-tim tersebut.

3. Tim-tim papan tengah pun tidak terlalu menonjol dan tidak memberikan banyak kejutan terkecuali Tottenham Hotspur yang akhirnya menjadi saingan mereka. Tim-tim seperti Swansea, Everton , dll. yang musim lalu sering memberikan kejutan tahun ini malah sedang mengalami penurunan.

Jadi kesimpulannya adalah Leicester mempunyai tim yang benar-benar pas baik dari segi tim, permainan dan bahkan waktunya. Dan kombinasi modal inilah menjadi modal/kunci keberhasilan sebuah tim di liga inggris atau Premiere League yang tidak melibatkan banyak uang.

Di liga-liga negara lain pada masa sepak bola moderen dari tahuan '90an sebenarnya ada juga yang mengalami nasib seperti Leicester ini. Di Spanyol dulu (1999-2000) ada Deportivo La Coruna. Di Italia ada Sampdoria (1990-1991) dan di Jerman ada VfL Wolfsburg dan lain-lain. Bahkan di turnamen seperti Piala Eropa kita masih tercengang dengan juara seperti Denmark dan Yunani.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah Leicester mau berkembang seperti Chelsea dan Manchester City atau hanya sebagai tim pembeda saja. Patut kita tunggu di musim-musim selanjutnya. Apakah modal uang sedikit ini bertahan atau hanya modal besar yang bisa menjadikan sebuah tim menjadi konsisten sebagai tim papan atas.