Thursday, June 2, 2016

Cerita Persaingan Usaha Kecil Menengah Jualan Ayam Goreng Krispi

Ketika orang mempunyai lapak jualan makanan tentunya paling tidak dia berbahagia karena dia mempunyai peluang untuk menghasilkan pendapatan. Tapi peluang tinggal peluang kalau ternyata masuk dalam sebuah persaingan.

Cerita ini tentang penjual atau pedagang makanan cepat saji dalam bentuk ayam goreng krispi (seperti KFC lah kalau boleh sebut merek) pinggir jalan. Sudah bukan rahasia lagi orang mulai mudah membuat ayam goreng krispi bahkan sampai dijual. Nah di pinggir jalan yang saya sering lewati akhirnya ada orang yang mengusahakan untuk menjualnya dengan lapak yang sangat sederhana. Sebenarnya di jalan yang sama selang sekitar 100m memang sudah ada pedagang tipe ayam sama dengan bentuk lapak yang hampir sama. 

Dua pedagang ini cukup lama bertahan. Berarti kalau saya berikan analisa maka dua pedagang ini kebetulan mempunyai pasar konsumennya masing-masing dari segi wilayah karena daerah yang padat penduduk dan keduanya dipisahkan oleh dua jalan kecil akses terhadap wilayah pemukiman belum lagi daerah yang diseberangnya. Ada persaingan tapi tidak signifikan.

Yang menarik adalah kemunculan lapak ayam goreng krispi baru yang berlokasi dekat (bahkan berseberangan walaupun beda arah hadap dagangannya) dengan penjual pertama yang saya sebutkan. Lapak atau gerobaknya terlihat lumayan bagus dan lebih bersar berbeda dengan yang pertama tersebut. Ketika saya tanyakan kepada penjual baru tersebut apa yang membedakan antara ayam gorengnya dengan ayam goreng pesaingnya yang pertama saya sebut dia bilang bahwa yang dia jual lebih enak.

Memang ada beberapa perbedaan antara ayam goreng krispi yang dua saya sebut di awal (kita sebut tipe A) dengan yang baru ini (kita sebut tipe B):
-Dari segi harga tipe A jauh lebih murah dari tipe B hampir 1/2 kali lipat.
-Tepung tipe A pada ayam gorengnya jauh lebih tebal dari tipe B.
-Ayam Goreng Krispi tipe A dibungkus dengan kantong dari kertas bekas seperti bila kita membeli pisang goreng pinggir jalan. Sedangkan tipe B menggunakan kotak makanan dari karton atau menggunakan kertas tipis khusus makanan.
-Dari segi rasa agak sedikit lebih enak tipe B.
-Tipe B jual nasi dan ada varian jualan lainnya. Tipe A hanya ayam goreng krispi saja.
Tapi tetap dua macam model seperti di atas tidak bisa menandingi ayam goreng yang sdah terkenal itu, ya namanya juga yang versi ekonomis.

Dalam perjalanannya saya sering mengamati stok ayam (terutama yang tipe B) yang terlihat tidak sering susut (terjual) walaupun sebenarnya jam buka mereka agak sedikit berbeda. Tipe A dari jam 11 pagi sampai 4 sore dan tipe B dari jam 2 sampai jam 9 sore. Dan akhirnya yang tipe B tersebut tidak bertahan sampai 2 tahun sehingga bisa dikatan tersisih dari persaingan.

Beberapa waktu kemudian setelah lapak atau gerobak tipe B pertama sudah dibawa kembali pemiliknya, baru-baru ini muncul kembali lapak ayam goreng krispi yang bertipe B dengan brand yang berbeda. Dia mengambil lokasi berjualan yang agak jauh dari tipe A yang pertama. Bahkan kalau dilihat dia memposisikan ada di tengah dari dua tipe A yang sudah berjualan sebelumnya.
Pertanyaannya adalah.....
Apakah si penjual tahu ada pedagang ayam yang bertipe sama dengan dirinya sudah gagal?
Apakah dengan memposisikan diri di tengah peluang penjualan sukses masih bisa tercapai?
Pertanyaan lanjutan adalah...
Apakah jelas bahwa harga yang mempengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli makanan terlepas dari pelayanan dan kualitas makanan?

Memang kita tidak boleh meremehkan orang yang mau berusaha. Tapi sebagai orang yang sering "ditakut-takuti" dengan ilmu ekonomi maka jelas kita punya hitung-hitungan. Ya mungkin kita doakan yang terbaik saja bagi pedagang-pedagang itu. Yang penting makanan harus halal dan jauh dari unsur untuk merusak tubuh manusia.

0 comments:

Post a Comment