Tuesday, May 24, 2016

Perang pengaruh di Media Sosial dan Meredupnya Bisnis Media Cetak

Media-media cetak mulai berguguran. Nama-nama besar dalam bisnis media pun bila bertarung di media internet pun belum tentu menghasilkan. Semua itu imbas dari semakin terbiasanya orang menyerap informasi dari media sosial.

Penggalan informasi yang terdapat dalam sebuah judul berita dalam bentuk tautan di media sosial terutama twitter cukup menjadi sebuah informasi bagi sebagian orang. Artinya tidak ada tindak lanjut dari si pembaca untuk membaca informasi yang lengkap dalam halaman yang dimaksudkan tautan tersbut. Celakanya kadang judul memang dibuat untuk menimbulkan terlebih dahulu emosi pembaca sehingga ada ketidaksesuaian informasi pada judul dengan berita.

Selain itu orang lebih suka didongengkan oleh orang lain yang terklasifikasi menjadi penyebar informasi. Penyebar informasi ini biasa disebut "buzzer". Layaknya sebuah "buzzer" atau tanda peringatan yang seketika harus mendapat perhatian karena sesuatu hal yang dia lontarkan. Sebenarnya buzzer tidak menjadi spesifik karena pada dasarnya orang mampu menyampaikan informasi dan menyebarluaskan informasi dengan syarat memang dia mempunyai pengaruh ditandai dengan pembaca setia ataupun pengikut. Nah munculnya berbagai macam penyebar informasi inilah yang menjadi perang pengaruh di media sosial.

Bayangkan saja satu orang bisa mempengaruhi persepsi orang lain dalam hal ini pembaca atau pengikutnya mengenai suatu masalah. Sementara di tempat lain akan ada orang yang kebetulan bertentangan mengeluarkan opininya sendiri. Kondisi ini sangat ramai belakangan ini di media sosial apalagi berhubungan dengan politik.

Orang-orang berpengaruh ini tidak jarang mempunyai corong media yang dia bangun sendiri. Hal inilah yang mengakibatkan pertarungan bisnis media sangat ketat. Biasanya orang-orang berpengaruh ini beberapa berasal dari selebritis atau wartawan atau mantan wartawan. 

Tapi kabar baiknya sampai sejauh ini bahwa penyerapan informasi oleh pembaca masih tersaring dan terpilah sesuai dengan akal. Namun hendaknya harus tetap diwaspadai adanya penyebaran informasi yang tidak sesuai bisa berupa fitnah, pengaburan, opini sesat, "fallacy" dan distorsi informasi lainnya.

0 comments:

Post a Comment