Friday, December 4, 2015

Trotoar ya untuk Pejalan Kaki.

Penulis adalah orang yang sangat aktif berjalan kaki sampai-sampai merasa sendirian di saat berjalan kaki di jalan umum. Dan salah satu hal yang paling sering terjadi adalah saya sering ditanya alamat tertentu karena saya memang orang yang sedang sendirian di pinggir jalan.

Menurut KBBI atau kamus besar bahasa Indonesia versi online trotoar /tro·to·ar/ n tepi jalan besar yang sedikit lebih tinggi daripada jalan tersebut, tempat orang berjalan kaki. Sehingga jelas trotoar adalah buat pejalan kaki.

Bahkan dengan jelas Undang-Undang telah membahas trotoar tersebut, demikian uraiannya:
Trotoar merupakan salah satu fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan di antara fasilitas-fasilitas lainnya seperti: lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, dan/atau fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut sebagaimana yang dikatakan dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”).
Penting diketahui, ketersediaan fasilitas trotoar merupakan hak pejalan kaki yang telah disebut dalam Pasal 131 ayat (1) UU LLAJ. Ini artinya, trotoar diperuntukkan untuk pejalan kaki, bukan untuk orang pribadi.
Dan ditambah ayat-ayat yang me ngatur penyalahgunaan trototar.

Tapi pada kenyataannya hak pejalan kaki dengan remeh diabaikan. Di Kota Bandung yang usaha rumahan pinggir jalan semakin menjamur maka pelanggaran penggunaan trotoar sebagi tempat parkir sangat mendominasi.

1 Hal yang sangat keterlaluan adalah bagaimana pihak-pihak tempat bisnis mengakali tempat parkir mereka dengan membuka ruang dekat dengan trotoar dan mengarahkan parkir mobil mepet dengan trotoar sehingga moncong-moncong mobil atau bagian depan mobil terutama mobil dengan mesin di depan akhirnya berada atau memakan bagian di daerah trotoar sehingga jelas membuat 'kagok' pejalan kaki. Kalau sudah melihat ini dari jauh biasanya pejalan kaki sudah enggan untuk melintasi trotoar dan akhirnya mengambil arah badan jalan yang bisa saja berbahaya karena sudah merupakan bagian lalu-lintas mobil.

1. Hal lagi yang saya kira sangat tidak mengenakkan adalah bagaimana ada 2 mobil parkir sejajar yang satu memakan trotoar dan yang satu lagi berada di pinggiran jalan. Nah kalau begini yang jalan kaki semakin bahaya lagi karena lintasan jalan mereka semakin ke tengah.

Ditambah lagi ternyata parkir memakan jalan terjadi di jalan-jalan yang tidak lebar tapi ada keramaian dan kadang trotoar pun tidak ada.

2 Hal di atas tersebut diperparah dengan belum tuntasnya penertiban pedagang kaki lima di trotoar dan parkir-parkir motor liar.

Penulis biasanya memberikan usul saran atas fenomena-fenomena tertentu di masyarakat namun untuk hal ini penulis tidak bisa menyarankan sesuatu. Kalau pedagang kaki lima dan parkir motor liar masih bisa ditertibkan aparat, nah bagaimana dengan bisnis di rumah tepi jalan?


0 comments:

Post a Comment