Thursday, November 5, 2015

Disctarra dihantam kesadaran konsumen dan bisnis yang berubah.

Semua orang pasti terlibat dengan lagu dan musik. Entah itu bersenandung atau sekedar memukul-mukulkan benda sehingga berirama sampai pada bagaimana harmonisasikan nada dalam menciptakan sebuah lagu. Jadi bisnis ini yang melibatkan lagu dan musik seharusnya merupakan bisnis yang cukup menguntungkan karena hampir semua orang punya pengalaman dengan musik dan lagu.

Tetapi setelah kita mendengar bahwa Disctarra sebuah nama toko yang terkenal karena menjual barang-barang rekaman lagu dan musik lokal dan internasional akan menutup sebagian besar toko fisik atau outletnya maka orang-orang sebagian besar kaget. Sebenarnya fenomena ini sudah didahului oleh toko musik terkenal Aquarius (mulai tutup sejak 2009). Cuman bertahannya Disctarra sekian lama setelah Aquarius tutup cukup mengesankan.

Agak aneh juga sebenarnya orang-orang bisa kaget. Aneh karena saya punya keyakinan bahwa banyak orang sudah tidak terlibat dengan namanya toko tersebut. Coba anda ingat kembali kapan anda pernah membeli CD di toko tersebut. Jadi kalau anda selama ini tidak pernah berurusan dengan toko tersebut kenapa harus kaget? Ya kaget sebagai empati boleh-boleh aja sih..hehe.

Tetapi kenapa toko tersebut harus tutup?

Tutup ya berarti tidak menguntungkan. Tidak menguntungkan berarti tidak banyak konsumen datang untuk membeli produk yang ditawarkan di toko mereka atau penjualan menurun. Alasan tidak ada penjualan bisa karena pemusik tidak menghasilkan karya musik (stok tidak ada) atau faktor lain yang mengakibatkan pemusik enggan berkarya dalam bentuk produksi benda kopi rekaman. Nah faktor lain inilah yang kami pilihkan dua faktor yang akan dibahas singkat tetapi cukup jelas tanpa basa-basi.

Kesadaran konsumen membeli barang asli.

Faktor yang pertama adalah kesadaran konsumen. Kesadaran konsumen membeli barang asli hampir punah seiring dengan kenyataan bahwa kelas menengah di Indonesia dalam dekade ini cenderung untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dengan biaya yang relaitf sedikit. Dan perilaku seperti ini sangat sukses diakomodir oleh pembajak. Pembajak bisa bentuk fisik atau dalam bentuk digital yang marak di Internet sekarang ini. Yang mampu membeli barang rekaman asli adalah tentu orang-orang menengah ke atas itu juga kebanyakan karena gengsi.

Bisnis berubah dari produksi fisik kopi rekaman ke digital.

Faktor ini semata-mata karena teknologi informasi berkembang sangat-sangat cepat. Teknologi ini berimbas pada penanganan video dan musik/lagu. Yang tadinya berupa master pita kaset berubah menjadi penyimpan piringan magnetik dan teknologi penyimpan moderen lainnya. Berubahnya wujud penyimpanan rekaman ini maka berubah pula penanganan penjualan dan administrasi lainnya walaupun sebenarnya tidak mudah dan tidak murah mangani hal digitalisasi semacam ini karena faktor kemanan data dan bagaimana menghadirkan aplikasi untuk kemudahan transaksi.

Faktor yang pertama mungkin akan berubah jika masyarakat menengah berubah menjadi masyarakat yang naik kelas atau naik tingkatannya alias makin sejahtera. Faktor kedua mungkin agak terlambat dibaca oleh Disctarra dan toko-toko lainnya yang sejenis. Seharusnya saat ini Disctarra mempunyai aplikasi konten digital yang aman dan mudah bukan sekedar toko online saja. Dan toko online pun harusnya banyak variasi untuk produk yang dijual.

Memang tidak semudah kita disini yang menganalisa dan kamipun menyadari sulitnya berbisnis dalam kondisi yang berubah dengan cepat. Tidak mudah berubah tetapi tetap harus semangat karena angin bisa berubah kapan saja.



0 comments:

Post a Comment